Friday, 1 May 2015

Sakura Season


こんばんは みんな!
おげんき ですか?

Ngobrolin soal sakura kemarin, itu dia oleh-oleh foto saya memakai yukata (lagi) pada sebuah event hari sabtu lalu, yaitu Japanese Season Festival 2015 yang diselenggarakan oleh teman-teman HIMA dari jurusan Bahasa Jepang. Ini adalah kali kedua saya mengikuti matsuri di kampus setelah pertama kalinya pada tahun lalu.

Berbeda dengan tahun lalu, di mana saya sangat banyak berfoto kesana kemari dengan para cosplayers. Kali ini, jangankan berfoto dengan cosplayer yang hukumnya ‘sunnah’. Untuk bisa mengambil foto pakai yukata yang ‘wajib’ ini pun udah perjuangan banget! Hehehe
*mulai layangan*

Yaa setidaknya, saya gak mau melewatkan kesempatan untuk bisa berfoto mengenakan pakaian tradisional Jepang ini. Sesering mungkin yang saya bisa jika ada kesempatan, why not, kan?
Tapi gimanaaa, masalahnya saya datang sendirian saat itu. Terus sama siapa, dong saya minta tolong buat mengabadikan momen ini? *celingak celinguk*

Dan akhirnya, setelah ‘merengek’ pada beberapa teman untuk ikutan datang, satu di antaranya ada yang bersedia. Uuh baik hatinya teman yang satu ini! どうも ありがとう.. hehehe *perezzz*

Lalu setelah usai antre – bayar – pakai dan berfoto mengenakan yukata dengan latar lukisan pohon sakura, kami pun membeli sedikit merchandise ‘jejepangan’ yang tersedia di salah satu stand bazaar favorit teman saya itu.
Hmm, omong-omong kenapa sih saya maksa banget suka ingin foto pake yukata sering-sering?
Karena... *mikir*
Semakin sering saya pake yukata/ kimono, semoga (siapa tau) aja bisa mancing adanya kesempatan buat saya bisa pergi ke Jepang, hehehe *positive sinting thinking*
I've always been dreaming of Japan!

Udah, ah, minna! Untuk bisa bermimpi, kita butuh tidur. Yuk, turn off the light!

おやすみなさい, zzz ~

Thursday, 11 September 2014

11:40 pm

Suara jangkrik-jangkrik terdengar sangat samar. Mengapa jadi sepi?
Kulihat kamu tengah duduk tertidur di atas meja; tepat di depan sebelah kiriku dengan kedua tanganmu yang terlipat sebagai bantalnya.

Ah, kamu ini sungguh mengganggu saja. Tak tahukah kalau aku sedang menyelesaikan laporan observasiku yang sudah terlantar dari sepekan lalu? Bagaimana mungkin aku bisa berkonsenterasi merangkai kata-kata ilmiah itu jika kamu malah beradegan yang demikian di sebagian lapang pandangku yang kemudian menyita seluruh pikiran dan hatiku?!

Kusingkirkan laptop ke sebelah kanan, mecoba memperhatikanmu yang tengah terlelap kemudian.
Ah, baru saja kemarin malam kamu berceloteh masuk angin karena pergi bermotor tanpa mengenakan jaket. Lalu sekarang apa? Belum keluar semua angin dalam tubuhmu, kamu lantas bersikukuh ingin menemaniku menyelesaikan tugas ini?

Kamu salah, anak manja! Apa yang bisa kamu bantu untuk meringankan tugas ini?
Hanya dengan mendahuluiku tidur seperti itu? Yang benar saja!
Lagi-lagi kamu malah memerintahku, walau secara tak langsung.
Baiklah... akan kubawakan selimutmu!

Thursday, 13 February 2014

Gravitasi

Apa yang paling kutakutkan saat ini,
adalah jika sang gravitasi semakin besar masanya.
Apa yang mungkin kutakutkan selanjutnya,
adalah jika aku akan lebih sering jatuh dari sebelumnya.

Wednesday, 12 February 2014

Undone ~

Aku menerka dengan persepsiku.
Aku terenyuh, dalam hatiku.
Aku simpati.
Aku yang melihat, dengan anggapan awalku.
Aku ambil keputusan.
Aku melakukan. Aku ikhlas.
Tapi dia tak seanggapan.
Dia tak setujuan.
Dia menyakiti, tanpa menyadari.
Aku kesal. Sakit.
Aku mencoba, menjaga jarak.
Apakah bisa?
Aku luruskan.
Berjanji untuk tidak lagi.
Dia menyapa.
Dia bertanya.
Aku tak tahu.
Andai dia mengerti.

Monday, 20 January 2014

Kora Kora Kill Us

Mantep gilaaak naik kora kora di pasar malam deket kosan bareng temen-temen x,x
Mungkin this is the first and the last, hahaha jantung serasa mau copooott!

Kayaknya kalo ada orang nanya ini:
What's the bravest thing you've ever done?

Saya bakal jawab gini:
When i ride kora kora. Cause it's totally like 'forget about safety'
LOL!



"Life is like a kora-kora.
It has its ups and downs.
But it's your choice to scream or enjoy the ride."

Sunday, 4 August 2013

Mengapa Oh Mengapa

Di antara milyaran pertanyaan yang ingin kuajukan,
Mengapa harus pertanyaan konyol itu yang terlontar?

Di antara niatan ingin menyapamu,
Mengapa semakin rapat bibir ini tertutup?

Di antara kerinduan-kerinduanku di sepanjang malam,
Mengapa harus terburu-buru kala pagi kita bertemu?

Dan di antara seribu bentuk perhatian yang ingin kutunjukkan,
Mengapa serupa acuh yang terwujud?