Sunday, 21 June 2015

Cerita Ramadhan Kita

Bandung, 4 Ramadhan 1436 H

Malam minggu ini kita habiskan dengan sholat isya, tarawih dan witir berjamaah.
Menurutmu adakah yang lebih indah dibanding malam minggu malam minggu kita yang lainnya?
Yang kita habiskan di bioskop, kafe-kafe, atau warung kue balok pinggir jalan.
Kita berada di sini sekarang. Di masjid kecil ini. Tidak hanya aku dan kamu. Keluarga kita juga.
Mamah-bapakmu dan mamah-bapakku. Sungguh suasana yang manis tak terelakkan.
Aku tak jarang tersenyum di sela-sela dua rakaat tarawih ketika mendapatimu sholat berdampingan dengan bapakku. Mertua dan calon menantunya, imajiku sesumbar. Ah!
Anak perempuan mana yang tak bahagia, melihat kedua lelaki tersayangnya berdampingan menempuh samudera pahala di bulan penuh makna.

Ada satu momen lagi yang tak kalah pentingnya. Ya, untuk kita berdua.
Kamu.. tentu tak lupa, kan?
Di bulan Ramadhan seperti ini, lebih dari dua puluh tahun yang lalu kita sama-sama
terlahir ke duniya. Sejak saat mengetahui hal itu, aku mulai menyukai kalender Hijriyah,
yang perhitungan waktunya memakai acuan bulan. Karena dengan begitu, kita memiliki
sebuah tautan waktu yang sama. Waktu saat kita dilahirkan.

Bayangkan, betapa manisnya kalender Hijriah. Pada bulan yang sama, Ramadhan contohnya, kita merasakan Ramadhan dalam musim yang berganti-ganti. Kadang Ramadhan di musim panas, kadang di musim dingin, kadang di musim semi, dan kadang di musim gugur. Betapa bulan Ramadhan itu menjadi penuh kesan karenanya. Hal ini tidak akan terjadi di kalender Masehi.
- Kurniawan Gunadi (Bumi dan Bulan dalam Hujan Matahari)

Aku tak ingin mengingat bulan lahir kita yang berbeda di kalender Masehi.
Cukuplah ingat, bahwa kita memiliki tautan waktu istimewa di kalender Hjiriyah.

Seperti itulah perasaanku padamu... Pada satu orang yang sama, perasaanku seperti musim, dan semua musim menimbulkan kesan.

Apa mungkin bisa hati kita pun bertaut satu sama lain?
Jangan tersipu! Sepakati saja kalau mau. Hehehe

Selamat milad kita berdua! Barakallah untuk usianya, ya.
Semoga dimudahkan jalan menuju cita-citanya, Āmīn :)
Jangan lupa untuk saling memantaskan diri masing-masing.
Izinkan kusatukan doa untuk bahagiaku, bahagiamu, dan bahagia kita berdua :)

Bulan Ramadhan tahun-tahun selanjutnya bila masih ada usia, maukah sholat berjamaah
berdua saja bersamaku dengan kamu sebagai imamnya di rumah sederhana kita?
Akan kutunggu.. in shaa Allah..

Monday, 8 June 2015

Fun Tubing at Gunung Kidul Jogja

CAVE TUBING "GOA PINDUL"
(tour the cave via tubing)


I was curious of what tubing was like, and it feels such an enjoyable and relaxing.


I was a bit worried at first, passing through inside the cave.


The cave was definitely thrilling as well and it was very new to me.
It was bright at the beginning, then slowly the light dissapears until pitch black
and then after awhile there was light again.


And it turns out to be funtastic adventures!

RIVER TUBING "KALI OYO"
(tour the river via tubing)


Refreshing water of the river.
Flowing with the river's soft and calm currents.


Seeing all the natural beauty and panorama alongside the river is just heaven to see.
I enjoyed the green, tropical forest, the sunshine which is just right to warm yourselves
while the water of the river cools you down, a great combo!


The fun that I experienced was priceless and unforgettable.


And I will cherish it for the rest of my life.


Playing water activities was amazing!
It was really nice, full of excitement.
Thank you so much for an unforgettable experience :*

Sunday, 7 June 2015

Indrayanti Beach, Gunung Kidul Jogja

Coconut palm trees.
The waves of the sea touch so divinely.
I love long walks on the beach.
Warm white sand floors.

Friday, 1 May 2015

Sakura Season


こんばんは みんな!
おげんき ですか?

Ngobrolin soal sakura kemarin, itu dia oleh-oleh foto saya memakai yukata (lagi) pada sebuah event hari sabtu lalu, yaitu Japanese Season Festival 2015 yang diselenggarakan oleh teman-teman HIMA dari jurusan Bahasa Jepang. Ini adalah kali kedua saya mengikuti matsuri di kampus setelah pertama kalinya pada tahun lalu.

Berbeda dengan tahun lalu, di mana saya sangat banyak berfoto kesana kemari dengan para cosplayers. Kali ini, jangankan berfoto dengan cosplayer yang hukumnya ‘sunnah’. Untuk bisa mengambil foto pakai yukata yang ‘wajib’ ini pun udah perjuangan banget! Hehehe
*mulai layangan*

Yaa setidaknya, saya gak mau melewatkan kesempatan untuk bisa berfoto mengenakan pakaian tradisional Jepang ini. Sesering mungkin yang saya bisa jika ada kesempatan, why not, kan?
Tapi gimanaaa, masalahnya saya datang sendirian saat itu. Terus sama siapa, dong saya minta tolong buat mengabadikan momen ini? *celingak celinguk*

Dan akhirnya, setelah ‘merengek’ pada beberapa teman untuk ikutan datang, satu di antaranya ada yang bersedia. Uuh baik hatinya teman yang satu ini! どうも ありがとう.. hehehe *perezzz*

Lalu setelah usai antre – bayar – pakai dan berfoto mengenakan yukata dengan latar lukisan pohon sakura, kami pun membeli sedikit merchandise ‘jejepangan’ yang tersedia di salah satu stand bazaar favorit teman saya itu.
Hmm, omong-omong kenapa sih saya maksa banget suka ingin foto pake yukata sering-sering?
Karena... *mikir*
Semakin sering saya pake yukata/ kimono, semoga (siapa tau) aja bisa mancing adanya kesempatan buat saya bisa pergi ke Jepang, hehehe *positive sinting thinking*
I've always been dreaming of Japan!

Udah, ah, minna! Untuk bisa bermimpi, kita butuh tidur. Yuk, turn off the light!

おやすみなさい, zzz ~