3.45 pm
“Finally,
use this mode for it’s purpose..”, tulisnya di-update status sebuah media social dengan berlatarkan hasil
tangkapan layar yang memperlihatkan diaktifkannya mode pesawat setelah
sebelumnya meng-update foto di bandara.
4.45 pm
“Where are
you going, Sir?”, balasku sejam kemudian saat melihat statusnya, penasaran.
10.45 pm
…
Belum ada
balasan. Tandanya pun masih centang satu, mungkin masih di perjalanan.
“Kemanakah
ia pergi?”, pikirku bertanya semakin penasaran.
Kudengar
suara hujan yang mengguyur cukup deras sejak sore tadi, sembari sedikit
mengkhawatirkan orang-orang di luar sana yang masih dalam perjalanannya.
_
4.00 am
[foto]
Tak dijawab
pertanyaanku, ia membalasnya dengan mengirimi foto dirinya tengah berdiri di
bawah layar led display besar bertuliskan kalimat Arabic: اهلا بكم في المدينة المنورة yang artinya Welcome to Madinah.
5.30 am
“Maa syaa
Allah, fii amanillah..”, balasku menahan berjuta pertanyaan yang sebenarnya
ingin kuajukan saat itu juga.
Sedang
apa..? untuk apa..? berapa lama..? dengan siapa..?
Apakah ia
mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya di kota suci yang bercahaya itu? Atau
apa..?!
Lupakanlah!
Apa hakku bertanya seperti itu.
9.30 am
“Aamiin”
9.31 am
“Umroh,
kah?”, lolos satu pertanyaan dari berjuta yang sedari tadi kutahan-tahan.
9.33 am
“Iya”,
jawabnya singkat sekali. Gemas aku! Husnudzon saja, dia sedang berkhidmat disana, mengapa pula aku ganggu.
9.35 am
“Di sini
sedang waktu dhuha.”
“Bolehkah
titip doa dari sana?”, terdengar seperti.. entahlah mengapa aku menulis kalimat seperti
itu.
9.40 am
“Already mentioned
you in my dua after fajr, Miss..”.
Aku speechless.
Dan senyum-senyum sendiri setelahnya.
_


























